Mengenal Stasiun Kedundang

IMG_20181205_212922

Stasiun Kedundang terletak di kecamatan Temon, kabupaten Kulon Progo yang sebelum dibangun jalur rel ganda merupakan penghubung antara stasiun Wates dengan stasiun Wojo.
Stasiun Kedundang dibangun seiring dengan jalur kereta Yogyakarta-Maos-Cilacap sekitar tahun 1876-1887 oleh Staatsspoorwagen (perusahaan kereta api negara di masa kolonial). Bentuk bangunan stasiun mirip dengan stasiun Sukoharjo, Solo Kota, Winongo, Palbapang dan Bantul.

IMG_20181205_212935.jpg
Stasiun ini kemudian mulai tidak aktif tahun 2007 saat selesainya jalur rel ganda. Tetapi sekitar 2 tahun terakhir ini terdengan kabar bahwa akan ada reaktivasi stasiun Kedundang seiring dengan selesainya pembangunan bandara baru.

IMG-20181205-WA0019
Menurut EVP Daop VI, stasiun Kedundang akan direaktivasi karena bisa dijadikan sebagai stasiun penghubung dari rel jalur utama kereta menuju bandara yang baru.

IMG-20181205-WA0018
Tetapi terkahir kali admin berkunjung ke stasiun Kedundang, belum ada tanda-tanda reaktivasi lebih lanjut. Di sana hanya ada nomor-nomor aset KAI yang berbentuk patok dan plat yang ditempelkan di dinding. Untuk kawasan rumah dinas, bangunannya sebagian besar masih terlihat kokoh walaupun ada 1 bangunan yang sudah mulai rusak atapnya. Selain itu semak-semak yang cukup tinggi menutup jalan dari stasiun menuju rumah dinas.

 

Advertisements

Mengenal Sosok Nyi Ageng Serang

IMG_20181125_230632_246.jpg

Mengenal sosok seorang pahlawan yang masih misterius seperti Nyi Ageng Serang tentu saja tidak mudah. Berbagai penelitian tentang tokoh ini yang dilakukan sekarang pasti akan menghasilkan “sesuatu” di kemudian hari.
Masyarakat Kulon Progo bahkan lebih mengenal nama “patung kuda” dari pada monumen Nyi Ageng Serang yang terletak di jalan provinsi yang membelah kota Wates.
Patung Nyi Ageng Serang membawa tombak seolah menyatakan bahwa perjuangan beliau di tanah Kulon Progo ini adalah perjuangan mengangkat senjata sampai titik darah penghabisan.

IMG_20181125_232547_882.jpg
Lalu, siapa sebenarnya Nyi Ageng Serang?
Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiah Wulaningsih Retno Edi yang lahir di desa Serang dekat Purwodadi, Jawa Tengah. Beliau adalah puteri dari Pangeran Senopati Notoprojo (Pangeran Rangga sedo Jajar). Ayah beliau merupakan panglima perang semasa Pangeran Mangkubumi (yang kemudian menjadi Hamengku Buwono I ) melawan VOC.
Menurut buku yang dituliskan oleh Mashoed Haka berjudul “Dunia Nyi Ageng Serang : Sejarah Wanita Pejuang Bangsa” tahun 1976 dikatakan bahwa Nyi Ageng lahir di tahun 1762, tetapi Peter Carey pernah menuliskan tahun lahir Nyi Ageng Serang tahun 1769. Tetapi buku karya Mashoed Haka tidak kronologis dalam menyebutkan sebuah kejadian sehingga kemungkinan sumber yang digunakan adalah cerita tutur. Selain itu, isi buku tersebut sebagian besar menceritakan Diponegoro dan Hamengku Buwono II. Buku tersebut juga ditulis menggunakan buku silsilah dan catatan sejarah Gusti Pangeran Harya Brotodiningrat dan seorang trah Raden Ayu Serang bernama Raden Boedi Oetomo. Minimnya arsip yang menuliskan tentang Srikandi Perang Jawa ini juga diungkapkan oleh Peter Carey.
Setelah ayahnya meninggal dalam melawan VOC, Nyi Ageng Serang kemudian dibawa ke keraton Yogyakarta kemungkinan karena stastusnya sebagai pewaris tanah apanage milik ayahnya. Nah disinilah Nyi Ageng Serang kemudian memutuskan untuk bergabung dengan prajurit estri yang merupakan pasukan elit keraton, dan berisi para wanita muda yang memiliki kemampuan perang luar biasa.
Dalam usia (mungkin) 73 tahun, Nyi Ageng Serang membantu pasukan Diponegoro untuk berperang melawan kolonial Belanda. Dalam hidupnya beliau memiliki keyakinan jika masih ada penjajahan, maka rakyat harus berjuang terus melawan belenggu penjajahan sampai titik darah penghabisan.
Selain turun gunung untuk menjadi komandan Perang Jawa, Nyi Ageng Serang juga merupakan penasihat Pangeran Diponegoro selama bergerilya. Wilayah-wilayah yang pernah dilintasi oleh pasukan Nyi Ageng Serang adalah Purwodadi, Semarang, Juwana, Kudus, Demak dan Rembang.
Setelah berperang selama 3 tahun akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir dan dimakamkan di desa Beku, Kalibawang,Kulon Progo, DIY.
Tahun kematian Nyi Ageng Serang pun beragam versi, termasuk yang ada di kompleks pemakaman beliau. Hal ini dikarenakan memang arsip yang menuliskan tentang Nyi Ageng Serang sangat minim. Beliau diangkat sebagai pahlawan nasional tahun 1974.
Keterbatasan informasi mengenai sosok pahlawan nasional ini seharusnya membuat kita terus menggali informasi yang valid agar tidak terjadi missing link sejarah bangsa. Ilmu pengetahuan akan update ketika hasil penelitian telah ditemukan.

Mengunjungi Saksi Sejarah : Eyang Nitirejo dan desa Borogunung

IMG_20181123_234750.jpg
Cara terbaik untuk merayakan kemerdekaan adalah bertemu dengan pejuang dan saksi sejarah yang telah memberikan sumbangsih terhadap berdirinya negara ini.

IMG_20181123_235753
Pada tanggal 19 Agustus 2018, Komunitas Sesaba Adikarta dan Watespahpoh mengunjungi kediaman salah satu saksi sejarah di desa Borogunung, Banjarsari, Kalibawang, Kulon Progo. Beliau bernama Eyang Nitirejo, seorang saksi sejarah yang menyediakan tempat tinggal kepada Jendral AH Nasution selama agresi militer belanda II.

Screenshot_2018-11-23-23-59-48-918_com.instagram.android
Pagi itu peserta tampak antusias untuk mengunjungi Eyang Nitirejo. Ya perjalanan yang ditempuh dari lapangan Pengasih menuju Kalibawang pun terbayarkan dengan sambutan yang diberikan oleh keluarga besar Eyang Nitirejo dan warga desa Borogunung. Dengan rumah yang masih memiliki gebyok asli, peserta diajak untuk membayangkan gentingnya agresi militer belanda II. Namun sebenarnya lokasi asli rumah eyang Nitirejo saat peristiwa tersebut bukanlah disini, melainkan agak naik sedikit dari lokasi yang sekarang.

IMG_20181124_000027
Ada beberapa peninggalan Jenderal AH Nasution di rumah Eyang Nitirejo yang masih dapat kita lihat sampai saat ini, yaitu :
1. Sebuah foto asli Jenderal AH Nasution yang sudah mulai rusak. Foto sang jenderal saat masih muda di dalam pigura mulai terlihat rusak dimakan usia.
2. Meja dan kursi yang pernah digunakan untuk melakukan aktivitas tulis menulis oleh Jenderal AH Nasution selama tinggal di rumah Eyang Nitirejo. Meja dan kursi sederhana ini sekilas nampak biasa saja tetapi mengandung nilai sejarah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
3. Lencana kehormatan yang diberikan oleh Jenderal AH Nasution kepada Eyang Nitirejo sebagai tanda terima kasih atas tempat tinggal dan markas besar komando Djawa di Borogunung.
Ternyata selain mengunjungi kediaman Eyang Nitirejo yang bersejarah, peserta jelajah juga diajak mengunjungi tempat pengintaian yang dahulu digunakan oleh pasukan Jenderal AH Nasution ketika berada di Borogunung.

IMG_20181123_234756
Boro adalah kisah heroik masyarakat memperjuangkan kemerdekaan yang hidup berdampingan dengan religiusitas katholik melalui gereja dan RS Santo Yusup. RS Santo Yusup merupakan rumah sakit tertua di Kulon Progo yang menjadi saksi bisu agresi militer Belanda II. Selain mengunjungi RS Santo Yusup, peserta kemudian diajak mengunjungi makam Romo Prentaller. Eyang Nitirejo, masyarakat Boro dan misionaris katholik adalah sebuah perpaduan hebat yang membuat desa ini begitu spesial bagi sejarah Kulon Progo.

IMG_20181123_234801